Selasa, 07 April 2015

surat untukmu



Di rumah orang tuaku, Tasikmalaya, 3 April 2015 (04:53 WIB)
Untuk seseorang yang berhasil membuatku menangis,,
Assalamuálaikum..
Semalam saat ku ajak bertemu dengan baik2 kau masih saja menghindar, memberikan alasan yang mengambang tanpa penjelasan lebih lanjut. Kau bilang diammu saat ini adalah cara agar kau tak menyakitiku, agar kau tak banyak buat salah lagi, padahal sebenarnya kesalahanmu justru karena diam itu dan aku semakin sakit karenanya. Aku sungguh tak mengerti. Sangat. Jadi jangan salahkan aku jika aku membencimu saat ini.
Sebelum kau benar2 pergi jauh, sebelum kau benar2 meninggalkanku, sebelum benar2 tak ada kata lagi diantara kita, aku ingin bercerita. Semoga dirimu berkenan untuk membaca.
Di rumah ini, aku hanya tinggal berdua, bersama mamah. Ia segalanya bagiku, dan cintanya untukku melebihi cintanya ia pada hidupnya sendiri.  Jarang sekali rumah ini didatangi orang lain selain yaa beberapa tetangga, saudara2 dan teman2 kakakku yang bertamu sebentar. Beberapa kali aku memboyong teman2 kuliahku kesini, tapi tak pernah sekalipun ada seorang pria yang datang atau yang kubawa selain mereka. Dan mamah selalu berharap pria itu segera datang mengetuk pintu rumah ini.
2 bulan yang lalu kau tiba2 muncul di kehidupanku, menggeretak, membujuk hatiku untuk ikut kehendakmu. Lama2 kupikir tak ada salahnya juga membuka hati untuk orang yang masih sangat sangat baru kukenal. Dan kini dirimu yang semula ku abaikan itu berhasil mencuri perhatianku dan mamah.
Kau tahu, semenjak aku menceritakanmu, kesehatan mamah meningkat drastis, ia terlihat lebih bahagia. Senyum yang lama tak kulihat itu kini terus tersungging dibibirnya. Matanya berbinar, raut wajahnya ceria, tak ada sedih, tak ada tangisan lagi. Aku berfikir, mungkinkah kau memang tiba2 jatuh dari surga? Kau membuat segalanya berubah lebih baik. Bukan Cuma mamah, aku pun sama.
Dan dengan sangat menyesal harus kukatakan juga, entah ini kebetulan atau apa, semenjak kau menjauh, mamah jatuh sakit, meskipun sebelumnya aku tak pernah mengatakan pada mamah bahwa kau menjauh. Aku sibuk merawat mamah, bukan Cuma fisik yang sibuk, lebih dari itu. Tak ada lagi yang lebih sakit selain melihat mamah sakit. Aku seakan kehilangan segalanya, dan tak ada lagi seseorang yang bisa menenangkan sedikt penatku saat itu. Ya. Kenapa kamu harus menjauh disaat aku benar2 jatuh?
Alhamdulillah mamah sekarang sudah sembuh. Tapi ternyata tak benar2 sembuh. Ia selalu menanyakanmu dan aku selalu bingung harus bilang apa. Tak apa jika hanya aku saja yang kecewa, tak apa jika hanya aku saja yang menangis. Tapi jika itu juga membuat mamah kecewa dan menangis, aku harus berbuat apa?
Aku tak minta apa2, aku hanya ingin kau bicara yang sebenarnya. jika aku memang tak cukup pantas, katakan saja. Jika kau yang merasa tak pantas untukku, aku ingin tahu alasannya kenapa. Aku ini orang biasa, hidupku juga sederhana. Jika aku banyak salah, mohon dimaafkan. Jika kau dan keluargamu sedang menghadapi masalah seperti yang kau katakan semalam, lalu apa hubungannya dengan aku? Haruskah kau menjauh karena itu?
Diam hanya akan membuatku berprasangka buruk terhadapmu. Menerka-nerka, mungkinkah kau memang sengaja mempermainkanku. Mungkinkah aku yang memang bodoh dan polos sehingga bisa kau tinggalkan begitu saja. Mungkinkah disaat aku menangis kau malah tertawa. Semoga saja tak ada yang benar dari prangka buruk itu.
Aku sama sekali belum mengenalmu dan kau juga sebenarnya belum mengenalku. Lalu apakah kita harus menghentikan perkenalan ini?
Okeh. Maafkan aku jika aku terlalu banyak beromong kosong di pagi hari seperti ini. Tapi kenyataannya memang seperti ini. Tak kulebih-lebihkan dan juga tak ku kurangi sedikitpun.
Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan ini.
Wassalam,,
Dari orang yang berhasil kau buat menangis, Ay..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar